BANYUMAS – Pemutusan mata rantai penyakit genetik thalassemia mayor melalui pengetatan skrining pasangan pra-nikah mendesak untuk dioptimalkan secara efektif di tingkat hulu kesehatan masyarakat. Hal tersebut mengemuka saat manajemen RSUD Banyumas menyelenggarakan seminar kesehatan hibrid lintas provinsi di Aula Lantai III Gedung Thalassemia, Sabtu (16/5/2026), sebagai bagian dari peringatan Hari Thalassemia Sedunia 2026 sekaligus momentum hari jadi rumah sakit yang ke-101.
Seminar Kesehatan Lintas Provinsi
Acara strategis ini berpusat di Aula Pertemuan Lantai III Gedung Thalassemia RSUD Banyumas. Pihak panitia menyelenggarakan seminar kesehatan ini secara hibrid, baik melalui daring maupun luring. Oleh karena itu, ratusan peserta dari wilayah Jawa Tengah dan Jawa Barat turut memadati ruang pertemuan. Bahkan, beberapa tenaga kesehatan dari fasilitas pelayanan di luar Pulau Jawa juga antusias mengikuti acara ini hingga selesai.
Direktur RSUD Banyumas membuka acara tersebut secara resmi pada Sabtu, 16 Mei 2026. Melalui sambutannya, beliau menegaskan bahwa thalassemia merupakan penyakit genetik yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak. Hal ini karena jenis penyakit sel darah merah tersebut belum memiliki metode pengobatan definitif.
“Penyandang thalassemia atau yang kerap disebut thaller harus melakukan transfusi darah seumur hidup dan minum obat setiap hari seperti obat kelasi besi dan berbagai macam vitamin,” ujar Direktur RSUD Banyumas.
Ancaman Komplikasi dan Disiplin Obat
Sayangnya, manajemen rumah sakit masih menemukan banyak kasus ketidakdisiplinan pasien di lapangan. Padahal, para penderita wajib mengonsumsi obat kelasi besi secara teratur demi keselamatan mereka. Akibat kelalaian ini, zat besi akhirnya menumpuk dan meningkatkan kadar feritin di dalam organ tubuh pasien.
Jika kondisi tersebut terus berlangsung tanpa penanganan cepat, pasien akan menghadapi risiko komplikasi fatal. Penumpukan zat besi tersebut berpotensi memicu penyakit jantung, ginjal, diabetes, hingga osteoporosis. Oleh sebab itu, pihak rumah sakit terus mendorong kedisiplinan pasien demi mencegah bahaya yang mengancam jiwa mereka.
Penguatan Skrining di Fasilitas Primer
Selanjutnya, pihak manajemen menjelaskan bahwa keberhasilan penanganan penyakit ini sangat bergantung pada sinergi fasilitas kesehatan. Rumah sakit rujukan bertugas menyediakan standarisasi terapi transfusi, pemantauan komplikasi, serta dukungan holistik. Namun, garda terdepan pencegahan tetap berada di tangan pusat kesehatan masyarakat.
“Peran layanan primer menjadi garda terdepan dalam deteksi dini, skrining pembawa sifat (carrier), edukasi pra-nikah, serta pendampingan psikososial bagi keluarga pasien,” ujar Direktur RSUD Banyumas.
Melalui penguatan fungsi tersebut, sistem rujukan berjenjang akan berjalan dengan lebih optimal. Pihak rumah sakit juga optimis masyarakat akan semakin cerdas dalam memutus rantai penularan penyakit genetik ini.
“Saya mengajak seluruh fasilitas kesehatan primer di wilayah Banyumas dan sekitarnya untuk memperkuat fungsi skrining dan rujukan berjenjang, kita harus mengedukasi masyarakat agar pemutusan mata rantai thalassemia mayor dapat berjalan efektif melalui pencegahan di hulu,” ujar Direktur RSUD Banyumas.
Sebagai informasi tambahan, panitia menghadirkan enam narasumber kompeten dalam seminar kesehatan RSUD Banyumas ini. Para pakar tersebut antara lain Dr. dr. Sri Mulatsih, M.P.H, Sp.A(K) dari RSUP Sardjito, serta drg. Ali Taqwim, Sp. KGA dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Selain itu, jajaran spesialis anak, penyakit dalam, dan tim keperawatan internal rumah sakit turut membagikan materi edukasi yang komprehensif kepada peserta.
