INSAIZU.AC.ID- Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri (UIN Saizu) Purwokerto sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) Identitas Atribut Penginyongan Tahun 2026, di Ruang Sidang Senat Gedung Rektorat Lantai 4, pada Rabu (20/5/2026).
Kegiatan menghadirkan sejumlah budayawan, akademisi, serta pegiat budaya dari wilayah Banyumas dan sekitarnya. FGD ini menjadi ruang diskusi memperkuat identitas budaya Penginyongan, sekaligus merumuskan strategi pelestarian budaya lokal agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman dan arus budaya global.

Hadir dalam kegiatan tersebut Rektor UIN Saizu, Prof. Ridwan, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Pengembangan Kelembagaan Prof. Suwito, Ketua LPPM Prof. Ansori, serta Kepala Pusat Kajian dan Pengembangan Budaya Panginyongan Dr. Rahman Affandi.
Kegiatan juga diikuti sekitar 40 pegiat budaya dari internal kampus maupun daerah Banyumas Raya, termasuk perwakilan dari Dinas Kebudayaan Kabupaten Brebes, Cilacap, dan Banjarnegara.
Rektor UIN Saizu Purwokerto, Prof. Ridwan menekankan pentingnya membangun daya tahan budaya lokal di tengah kontestasi budaya global yang semakin kuat. Menurutnya, pelestarian budaya tidak cukup hanya menjaga bentuk asli, tetapi juga perlu diiringi dengan inovasi dan adaptasi terhadap perkembangan zaman.
“Secara akademis kita dihadapkan pada kontestasi budaya lokal dengan budaya global. Kita perlu membangun kesadaran dan merumuskan resiliensinya agar budaya lokal memiliki daya tahan sekaligus mampu beradaptasi dengan model baru dan modern,” ujarnya.
Prof. Ridwan menambahkan bahwa proses adaptasi budaya lokal dan global perlu dilakukan secara seimbang agar budaya Penginyongan tidak kehilangan relevansi di tengah perubahan masyarakat.
“Nguri-uri budaya jangan berhenti hanya pada pelestarian semata, karena masyarakat terus berubah. Melestarikan dan berinovasi harus berjalan beriringan agar budaya lokal tidak mengalami marginalisasi dan hilang,” tambahnya.
FGD menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas berbagai aspek budaya Penginyongan. Sastrawan dan Budayawan Banyumas, Ahmad Tohari memaparkan materi tentang “Adat dan Tradisi Budaya Penginyongan”.
Dalam pemaparannya, Ahmad Tohari menjelaskan nilai-nilai gotong royong dalam tradisi masyarakat Banyumas seperti sambatan, kerigan, dan budaya guyub rukun di lingkungan pertanian maupun kehidupan sosial masyarakat.
“Petani ketika menanam kedelai ada sambatan, ada gotong royong dan guyub rukun di ladang. Nilai-nilai seperti inilah yang menjadi identitas budaya Penginyongan,” jelasnya.
Sementara Budayawan Tegal, Atmo Tan Sidik membahas “Ragam Atribut dalam Tradisi Seni dan Budaya Penginyongan”. Sementara itu, Ki Gobed Krusharto selaku Pembina Paguyuban GORAMAS (Gotong Royong Warga Banyumas) memaparkan materi mengenai model dan filosofi atribut identitas budaya Penginyongan.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta mengenai upaya menjaga eksistensi budaya Banyumasan di era modern. Para peserta juga saling berbagi pengalaman terkait pengembangan dan pelestarian budaya lokal di daerah masing-masing.
Usai sesi diskusi, peserta diajak mengunjungi Pojok Penginyongan di Perpustakaan UIN Saizu untuk melihat berbagai koleksi dan literasi budaya lokal yang menjadi bagian dari upaya dokumentasi dan penguatan identitas budaya Penginyongan.
Melalui kegiatan ini, LPPM UIN Saizu berharap tercipta kesamaan persepsi serta langkah konkret dalam menjaga, mengembangkan, dan melestarikan budaya Penginyongan sebagai warisan leluhur yang memiliki nilai penting bagi generasi mendatang.
Kampus Desa Mendunia!
#UINSaizu #LPPM #Budaya #Penginyongan #Kampusdesamendunia
