BANYUMAS – Kabupaten Banyumas kini memperkuat posisinya sebagai pemasok hampir separuh produksi gula kelapa nasional melalui modernisasi alat pengolahan nira kelapa genjah di Kecamatan Cilongok. Guna mendongkrak volume ekspor gula semut, FTP UGM memperkenalkan teknologi evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar kepada para petani setempat. Program pengabdian masyarakat berbasis riset ini digelar selama tiga hari hingga Selasa (2/6/2026) untuk memastikan produk hilir para penderes memenuhi standar higienis pasar global.
Langkah strategis ini menjadi jawaban nyata untuk menjawab tantangan peningkatan mutu komoditas lokal di pasar internasional. Melalui penerapan teknologi pengolahan yang lebih terstandar, para petani kini dapat memproduksi gula dengan kualitas yang seragam. Oleh karena itu, langkah ini sekaligus memperkuat daya saing komoditas unggulan Banyumas di pasar dunia.
“Program ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan PT Integral Mulia Cipta (PT IMC) sebagai mitra industri, GIZ sebagai mitra penguatan budidaya berkelanjutan, dan KOPIPO (Koperasi Integrasi Petani Organik),” ujar Ketua tim pelaksana FTP UGM, Dr. Sri Rahayoe, S.T.P., M.P.
Potensi Besar Gula Kelapa Indonesia di Pasar Global
Indonesia saat ini tercatat sebagai salah satu produsen sekaligus eksportir terbesar dunia untuk komoditas pemanis alami ini. Berdasarkan data Volza Export Trade Data periode 2024–2025, Indonesia sukses membukukan lebih dari 4.200 pengiriman ekspor ke 73 negara tujuan. Kemudian, Kabupaten Banyumas hadir sebagai salah satu sentra produksi utama yang menguasai pasokan nasional.
“Daerah ini mengekspor sekitar 5.342 ton gula semut pada tahun 2024 dan berkontribusi sekitar 40–50% terhadap produksi gula kelapa nasional, sehingga menjadi salah satu wilayah terpenting dalam rantai pasok gula semut Indonesia,” lanjut Sri Rahayoe.
Meskipun gula semut banyumas memiliki potensi pasar yang sangat besar, namun proses produksi di tingkat petani masih menghadapi kendala klasik. Para pengrajin sering kali mengalami masalah ketidakseragaman mutu produk serta keterbatasan pengendalian proses. Akibatnya, ketergantungan pada keterampilan manual operator masih sangat tinggi.
Solusi Teknologi untuk Dongkrak Ekspor Gula Semut
Guna mengatasi masalah tersebut, tim FTP UGM memperkenalkan teknologi tepat guna berupa evaporator berpengaduk mekanis dan kristalisator putar. Alat inovatif ini dirancang khusus untuk mendukung proses produksi agar lebih terukur, higienis, dan konsisten. Jadi, kadar air dan ukuran partikel gula dapat dikontrol dengan baik sehingga harga gula semut ekspor bisa tetap bersaing.
“Penerapan teknologi evaporator dan kristalisator ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kapasitas produksi, tetapi juga memperbaiki konsistensi mutu gula semut di tingkat petani,” pungkas Sri Rahayoe.
Selanjutnya, program pengabdian masyarakat ini juga melibatkan Universitas Putra Malaysia (UPM) untuk membagikan pengalaman terbaik mereka. PT IMC selaku eksportir juga turut memberikan sesi berbagi mengenai tantangan nyata di pasar global. Melalui sinergi hulu-hilir ini, kualitas gula kelapa indonesia diharapkan semakin diakui oleh dunia.
