KARANGLEWAS — Rela melepas lahan tanpa menuntut uang ganti rugi sepeser pun, warga Grumbul Cibun akhirnya melihat impian memiliki akses jalan layak mulai terwujud. Pemerintah Kabupaten Banyumas merespons keikhlasan warga ini dengan meresmikan kelanjutan pembangunan Jembatan Grumbul Cibun Sunyalangu, Senin (24/8/2026).
Anggaran Gabungan Tembus Rp7,1 Miliar
Pemerintah daerah mengalokasikan anggaran sebesar Rp2,1 miliar dari APBD Banyumas untuk merampungkan proyek ini. Selain itu, pemerintah pusat menyuntikkan bantuan struktur gelagar senilai Rp5 miliar demi mempercepat penyelesaian konstruksi.
Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Banyumas memastikan pengerjaan tahap keempat ini berfokus pada pemasangan struktur utama jembatan. Bangunan fisik jembatan permanen ini dirancang memiliki panjang 60 meter serta lebar 8 meter.
“Kami ucapkan terima kasih, Pak Yanuar yang telah ikut mengawal kegiatan ini sehingga dapatkan bantuan dari pemerintah pusat senilai sekitar 5 miliar,” ujar Kepala Dinas PU Kabupaten Banyumas, Kresnawan.
Kresnawan menambahkan bahwa dukungan dana pusat mempercepat target penyelesaian jembatan selama lima bulan ke depan. Namun, pihak dinas memproyeksikan masih ada tahapan lanjutan untuk menyempurnakan akses jalan di seberang jembatan.
Warga Sepakat Hibahkan Lahan Tanpa Ganti Rugi
Dukungan penuh masyarakat menjadi kunci utama kelancaran proyek infrastruktur di Desa Sunyalangu ini. Bupati Banyumas mengonfirmasi langsung kesediaan warga setempat yang menyerahkan sebagian lahan mereka tanpa meminta kompensasi uang.
“Saya tadi menanyakan kepada warga terkait lahan mereka, mereka siap tanpa meminta ganti rugi,” ucap Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono.
Sadewo menegaskan bahwa pemerintah daerah akan terus mengusahakan anggaran kelanjutan pembangunan jalan sambungan tersebut. Pemerintah daerah memperkirakan pelebaran jalan penunjang di seberang jembatan akan berjalan pada tahun anggaran mendatang.
“Kalau tahun 2027 sepertinya agak susah. Mudah-mudahan nanti 2028 bisa jalan,” tutur Sadewo.
Akhiri Derita Akses Memutar dan Bahaya Sungai
Penantian pembangunan jembatan ini telah berlangsung sejak selesainya pengerjaan tahap ketiga pada akhir tahun 2022 lalu. Sebelum memiliki jembatan gantung pada tahun 2004, masyarakat Grumbul Cibun bahkan harus menerjang aliran Sungai Logawa untuk beraktivitas.
Akses yang terbatas sering melumpuhkan kegiatan ekonomi warga, terutama saat arus sungai meluap atau saat perbaikan fasilitas berlangsung. Warga terpaksa menempuh rute melingkar yang jauh lebih panjang hanya me-nyangkut kebutuhan sehari-hari.
“Waktu dulu ada pekerjaan di jembatan ini, kita engga bisa kemana-mana. Ke pasar harus jalan ke Sokawera. Jauh banget,” ungkap salah satu warga Grumbul Cibun RT 8, Wartun.
Kehadiran jembatan beton permanen ini bakal memperlancar distribusi hasil bumi serta mobilitas harian warga desa. Seluruh lapisan masyarakat kini optimistis perekonomian Grumbul Cibun berkembang pesat setelah jembatan beroperasi penuh.
