Aplikasi digital GreenMu id resmi meluncur untuk menyulap tumpukan sampah rumah tangga warga Banyumas menjadi sumber penghasilan ekonomi baru. Inovasi berbasis aplikasi ini hadir untuk mempermudah pemilahan serta penukaran sampah secara terpadu langsung dari lingkungan RT dan RW.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari komitmen daerah dalam memperkuat pengelolaan sampah yang berkelanjutan. Lewat platform digital tersebut, pemilahan limbah anorganik kini tidak lagi sekadar urusan kebersihan, melainkan peluang transaksi yang memberi nilai tambah finansial secara langsung.
Strategi Zero Waste to Money
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengapresiasi tinggi terobosan digital ini. Menurutnya, skema pemanfaatan sampah menjadi sumber uang jauh lebih ekonomis ketimbang mengubahnya menjadi energi.
“Pengelolaan sampah di Banyumas diarahkan agar memberikan nilai tambah ekonomi atau Zero Waste to Money. Pendekatan Zero Waste to Energy memerlukan biaya pengolahan yang jauh lebih tinggi daripada nilai energi yang dihasilkan,” tegas Sadewo saat menghadiri acara pengukuhan di Hotel Java Heritage Purwokerto, Selasa (22/9/2026).
Sadewo menegaskan bahwa daerahnya telah mengelola sekitar 77 persen sampah tanpa bergantung penuh pada sistem pembuangan akhir. Kehadiran platform digital ini diyakini bakal mempercepat sisa target penanganan limbah di wilayahnya.
“Persoalan lingkungan hidup tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah sendirian,” lanjut Sadewo sembari mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat kolaborasi aksi nyata.
Ribuan Satgas dan Kebun Buah Produktif
Guna memastikan aplikasi berjalan efektif di lapangan, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyumas langsung mengukuhkan 1.014 personel Satgas GreenMu. Pasukan ini disebar hingga tingkat ranting untuk mendampingi warga dalam memilah serta mengoperasikan aplikasi.
“Untuk efektivitas program ini, PDM Banyumas meresmikan pengukuhan 1.014 Satgas GreenMu yang tersebar di tingkat ranting dan cabang,” jelas Ketua PDM Banyumas M. Djohar.
Djohar menambahkan bahwa gerakan ini tidak berhenti pada urusan sampah anorganik saja. Pihaknya juga menjalin kerja sama penanaman pohon buah seluas 10 hektare di atas tanah wakaf untuk mendukung ketahanan pangan lokal.
“Program ini diharapkan mampu memperkuat ketahanan pangan lokal sekaligus menjadi kawasan konservasi hijau produktif bagi warga Banyumas,” pungkas Djohar.
