Mulut dan kemaluan disebut sebagai penyebab utama manusia terjerumus ke dalam neraka dalam kajian adab dan akhlak yang berlangsung di Masjid Jendral Besar Soedirman Purwokerto, Rabu (24/09/2025). Ustadzah Estifa dalam ceramahnya menekankan pentingnya menyaring setiap ucapan sebelum diunggah menjadi konten di media sosial.
Dalam kajian tersebut, Ustadzah Estifa menekankan bahwa lisan adalah nikmat besar setelah iman dan Islam. Namun, lisan juga ibarat senjata bermata dua yang dapat mengangkat atau justru merendahkan derajat seseorang. Beliau mengingatkan bahwa setiap ucapan, sekecil apa pun, tidak akan luput dari pengawasan malaikat.
“Tidaklah setiap ucapan yang keluar dari lisan kita, melainkan di situ ada malaikat yang mengawasi dan mencatat,” ujar Ustadzah Estifa saat mengutip Surat Qaf ayat 18. Beliau menjelaskan bahwa catatan tersebut mencakup kata-kata sia-sia yang tidak bermanfaat. Oleh karena itu, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak terjerumus dalam perilaku kufur nikmat lisan.
Bahaya Ghibah di Medsos dan Dosa Lisan
Fenomena ghibah atau menggunjing kini sering bergeser menjadi konten digital yang merusak kehormatan orang lain. Ustadzah Estifa menegaskan bahwa banyak orang masuk neraka karena tidak memikirkan dampak perkataannya. Hal ini sangat relevan dengan etika berkomentar dan membuat konten di media sosial saat ini.
“Ada seorang hamba yang ia berbicara dengan satu perkataan yang ia tidak pikirkan, tetapi Allah justru menggelincirkan ke dalam neraka,” tegas Ustadzah Estifa. Beliau menambahkan bahwa mulut dan kemaluan merupakan dua hal yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka. Maka dari itu, menjaga lisan dari konten adu domba menjadi kewajiban mutlak bagi setiap muslimah.
Interogasi Diri dan Larangan Mencela Waktu
Alih-alih sekadar introspeksi, jamaah diajak untuk melakukan interogasi diri secara mendalam. Hal ini termasuk memperhatikan ucapan spontan yang sering dianggap sepele, seperti mencela kondisi cuaca. Ustadzah Estifa mengingatkan bahwa mencaci waktu sama saja dengan menyakiti pencipta-Nya.
“Manusia sering mengeluh, ‘Jan, udan bae’ (duh, hujan terus). Padahal hujan itu adalah rahmat,” pungkasnya memberikan contoh perilaku mencela waktu. Sebagai penutup, beliau mendorong jamaah untuk mengarahkan lisan pada ketaatan seperti zikir dan doa. Dengan menjaga adab dan akhlak, seseorang dapat meraih derajat tertinggi di sisi Allah SWT.
