Hari Baik Menurut Weton Bukan Klenik, Bupati Banyumas: Ada Filosofi Hidup yang Mendalam

July 13, 2026
Suasana khidmat para peserta dan sesepuh penghayat kepercayaan saat menghadiri workshop tradisi petungan Jawa untuk menentukan hari baik menurut weton di Pendopo Si Panji Banyumas.

Penentuan hari baik dalam tradisi masyarakat Jawa memiliki landasan nilai dan kearifan lokal yang kuat untuk menyelaraskan kegiatan manusia dengan energi alam semesta. Oleh karena itu, Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mendorong generasi muda untuk mempelajari kembali sistem kalender jawa pasaran ini dalam workshop kebudayaan di Pendopo Si Panji Purwokerto, Kamis (9/7/2026).

Makna Mendalam di Balik Hitungan Hari Baik

Sistem kalender jawa pasaran menggabungkan hari masehi dan lima hari pasaran, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Melalui kombinasi ini, masyarakat setempat dapat menghitung neptu untuk menyelaraskan aktivitas manusia dengan energi alam semesta. Oleh karena itu, petungan tidak berdiri sendiri sebagai ramalan kosong.

Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono, menegaskan bahwa tradisi ini memuat pedoman hidup yang sangat mendalam. Leluhur Jawa menggunakan rumusan tersebut untuk membaca karakter dan mengarahkan tujuan hidup.

“Petungan Jawa bukan hanya sekadar hitung-hitungan, tetapi memiliki nilai, filosofi dan cara orang-orang terdahulu memaknai perjalanan hidup manusia,” ujar Bupati Banyumas, Sadewo Tri Lastiono saat membuka acara di Pendopo Si Panji Purwokerto.

Panduan Ramalan Jodoh Jawa hingga Kematian

Selanjutnya, kearifan lokal ini mengawal ketat seluruh fase kehidupan manusia dalam tradisi jawa dari lahir sampai mati. Masyarakat menggunakan weton untuk menentukan momentum penting. Contohnya adalah urusan membangun rumah, memulai usaha, hingga menentukan hari pernikahan.

Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari, menjelaskan bahwa hari kelahiran membawa energi bawaan yang unik. Energi tersebut kemudian memengaruhi kecocokan pasangan dalam sistem ramalan jodoh jawa.

“Ketika seseorang lahir, dalam tradisi Jawa diyakini membawa peruntungan maupun hari-hari tertentu yang menjadi bagian dari petungannya,” ujar Ketua Paguyuban Kawruh Rasa Sejati, Feby Lestari.

Menjaga Identitas Budaya di Era Modern

Meskipun zaman bergerak ke arah digital, Pemkab Banyumas berkomitmen menjaga warisan leluhur ini agar tidak punah. Langkah nyata tersebut mewujud melalui workshop kebudayaan yang melibatkan para sesepuh dan akademisi. Pemerintah daerah juga merangkul semua komunitas spiritual untuk membangun daerah secara inklusif.

“Setiap elemen masyarakat memiliki peran dan kontribusi, termasuk saudara-saudara penghayat kepercayaan,” ucap Sadewo Tri Lastiono menutup sambutannya.

Kategori:
ARTIKEL


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The maximum upload file size: 64 MB. You can upload: image, audio, video, document, spreadsheet, interactive, text, archive, code, other. Links to YouTube, Facebook, Twitter and other services inserted in the comment text will be automatically embedded. Drop file here