Warga Kabupaten Banyumas kini punya cara cerdas untuk mendapatkan tambahan penghasilan dari dapur sendiri. Melalui kolaborasi strategis Kementerian Koperasi dan PT Pertamina, minyak jelantah yang terkumpul dari rumah tangga dan pelaku usaha kuliner kini dihargai dan diolah menjadi energi ramah lingkungan.
Kabupaten Banyumas resmi menjadi lokasi percontohan nasional untuk pengumpulan minyak jelantah berbasis kerakyatan. Program hasil kerja sama Kementerian Koperasi dan PT Pertamina ini dipusatkan di Desa Dawuhan, Kecamatan Banyumas.
Langkah ini menjawab persoalan lama terkait pembuangan limbah rumah tangga yang kerap mencemari lingkungan. Pemerintah daerah menilai sisa minyak goreng warga menyimpan potensi ekonomi yang besar jika dikelola secara kolektif.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyatakan bahwa program ini memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Warga tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga mendapatkan pemasukan tambahan dari barang yang selama ini dianggap tidak berguna.
“Bagi kami, program ini bukan sekadar kegiatan mengumpulkan minyak bekas,” ujar Sadewo. “Lebih dari itu, ini adalah kesempatan untuk menjadikan sesuatu yang selama ini kita anggap limbah menjadi sumber nilai ekonomi baru bagi masyarakat.”
Peran Strategis Koperasi dan Target Energi Nasional
Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KD/KMP) sebagai garda terdepan. Empat koperasi di Banyumas ditunjuk menjadi pionir, meliputi KDKMP Dawuhan, KDKMP Kober, KDKMP Karanglewas Lor, dan KDKMP Karangwangkal.
Koperasi bertindak sebagai jembatan yang menampung setoran minyak jelantah dari rumah tangga serta pelaku usaha kuliner. Minyak yang terkumpul kemudian dikirimkan secara berkala ke kilang Pertamina untuk diproses lebih lanjut.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa minyak jelantah tersebut diolah menjadi bahan bakar bernilai tambah tinggi. Produk akhirnya mencakup bahan bakar penerbangan ramah lingkungan atau Sustainable Aviation Fuel (SAF).
“Pertamina tidak hanya datang sebagai pembeli, tetapi ingin menjadi mitra yang bersama-sama mendorong keekonomian masyarakat,” ujar Simon.
Pertamina mencatat target ambisius dalam pengumpulan bahan baku ini secara nasional. Volume pengumpulan diproyeksikan mencapai 67,03 juta liter pada tahun 2027 dan melonjak hingga 437,4 juta liter pada tahun 2030.
Dorongan Pemerintah untuk Kemandirian Desa
Menteri Koperasi Ferry Julianto menegaskan bahwa pengumpulan minyak jelantah memperkuat fungsi ekonomi koperasi di tingkat akar rumput. Koperasi membuktikan diri mampu menjadi pusat aktivitas produktif yang langsung menyentuh kebutuhan warga desa.
Pemerintah Kabupaten Banyumas mengajak seluruh masyarakat untuk aktif berpartisipasi menyetorkan minyak jelantah ke koperasi terdekat. Sinergi ini diharapkan terus berlanjut agar kelestarian lingkungan terjaga dan ketahanan energi nasional semakin kuat.
