Cara Mendidik Anak Disiplin Tanpa Bentakan, Sekolah Ini Pakai Sanksi Unik

August 5, 2026
Suasana upacara bendera di halaman SD Negeri 2 Dukuhwaluh Banyumas dipimpin pembina upacara berjas almamater biru di depan barisan siswa seragam merah putih.

BANYUMAS — Pendekatan berbeda dalam menegakkan aturan sekolah kini memicu perhatian banyak pihak. Mengganti hukuman konvensional dengan pembuatan karya mading, cara mendidik anak disiplin di SD Negeri 2 Dukuhwaluh terbukti ampuh melatih kepatuhan sekaligus mengasah keberanian berkarya siswa.

Ubah Sanksi Pelanggaran Jadi Wadah Karya

Kebijakan mengenai pemberian sanksi kreatif tersebut diterapkan langsung dalam rangkaian kegiatan upacara bendera pada Senin, 3 Agustus 2026. Sekolah memanfaatkan momentum rutin mingguan ini untuk mengevaluasi kerapian dan kedisiplinan para siswa.

Pihak sekolah menegaskan bahwa tujuan utama pemberian tugas mading bukan untuk memberatkan murid. Sebaliknya, langkah ini menjadi instrumen pembinaan agar siswa memahami pentingnya taat pada aturan sejak usia dini.

“Upacara bendera jangan dipandang hanya sebagai kegiatan rutin. Upacara adalah salah satu bentuk membangun kedisiplinan di sekolah,” kata Kepala SD Negeri 2 Dukuhwaluh, Siti Suswati, S.Pd.

Suswati menambahkan bahwa pihak guru selalu mengimbau siswa agar berpakaian rapi dan lengkap. Namun, pendekatan edukatif tetap menjadi prioritas utama saat menemukan siswa yang belum patuh.

“Bagi siswa yang belum memenuhi ketentuan, guru akan memberikan tugas membuat mading yang nantinya dipajang di sekolah. Cara ini tidak hanya menumbuhkan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga melatih kreativitas, imajinasi, dan keberanian berkarya,” ungkap Suswati.

Terapkan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat

Selain penegakan disiplin seragam, suasana upacara di lapangan sekolah tersebut terasa berbeda dari biasanya. Kehadiran mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) memberikan dorongan motivasi baru bagi seluruh peserta didik.

Mahasiswa PPG UMP yang sedang menjalani Praktik Pengalaman Lapangan (PPL), Hardi Gunarso, S.Pd., bertindak langsung sebagai pembina upacara. Dalam amanatnya, Hardi mengajak seluruh siswa menerapkan prinsip kebiasaan positif setiap hari.

“Kebiasaan bangun pagi yang dilanjutkan dengan beribadah dan mempersiapkan diri akan membuat tubuh lebih bugar serta siap mengikuti pembelajaran di sekolah,” ujar Pembina Upacara, Hardi Gunarso, S.Pd.

Hardi juga mengingatkan seluruh murid bahwa proses menuntut ilmu tidak terbatas di dalam ruang kelas saja. Siswa harus aktif belajar saat berada di rumah maupun di lingkungan masyarakat sekitar.

Latih Kepemimpinan Sejak Dini

Pelaksanaan upacara bendera tersebut melibatkan peran aktif seluruh warga sekolah. Siswa-siswi Kelas 5 yang telah menjalani latihan intensif selama sepekan sukses menjalankan tugas sebagai petugas upacara dengan penuh tanggung jawab.

Pengalaman menjadi petugas upacara memberi ruang nyata bagi anak-anak untuk mengasah mental kepemimpinan. Siswa belajar mengontrol rasa gugup saat memimpin barisan, mengibarkan bendera, hingga membaca teks Pembukaan UUD 1945.

Melalui kombinasi latihan rutin, penerapan sanksi edukatif, dan penanaman nilai karakter, sekolah berharap seluruh murid mampu membiasakan perilaku positif dalam kehidupan sehari-hari.

Kategori:
ARTIKEL


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The maximum upload file size: 64 MB. You can upload: image, audio, video, document, spreadsheet, interactive, text, archive, code, other. Links to YouTube, Facebook, Twitter and other services inserted in the comment text will be automatically embedded. Drop file here