Ebeg Banyumasan

May 10, 2022

Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas yang menggunakan boneka kuda yang terbuat dari anyaman bambu dan kepalanya diberi ijuk sebagai rambut. Tarian Ebeg di daerah Banyumas menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan diperagakan oleh pemain Ebeg.

Selain itu, Ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain. Berbeda dengan Wayang yang merupakan apresiasi budaya Hindu India dengan berbagai tokoh-tokohnya. Ebeg sama sekali tidak menceritakan tokoh tertentu dan tidak terpengaruhi agama tertentu, baik Hindu maupun Islam. Bahkan dalam lagu-lagunya justru banyak menceritakan tentang kehidupan masyarakat tradisional, terkadang berisi pantun, wejangan hidup dan menceritakan tentang kesenian Ebeg itu sendiri. Lagu yang dinyanyikan dalam pertunjukan Ebeg hampir keseluruhan menggunakan bahasa Jawa Banyumasan atau biasa disebut Ngapak lengkap dengan logat khasnya. Jarang ada lagu Ebeg yang menggunakan lirik bahasa Jawa Mataraman dan bahasa selain Banyumasan. Beberapa contoh lagu-lagu dalam Ebeg yang sering dinyanyikan adalah Sekar Gadung, Eling-Eling, Ricik-Ricik Banyumasan, Tole-Tole, Waru Doyong, Ana Maning Modele Wong Purbalingga dan lain-lain.

Arti ebeg berasal dari kata eblek yang berarti anyaman bambu yang dibentuk menyerupai kuda berwarna hitam atau putih. Ebeg sejenis tarian yang menceritakan latihan perang. Secara histori, tari ebeg sudah berkembang sejak abad 18 yakni pada zaman Pangeran Dipenogoro sebagai bentuk dukungan rakyat terhadapnya dalam melawan Belanda.

Ebeg dimainkan oleh lima sampai delapan orang tentunya dengan diiringi seperangkat gamelan. Empat fragmen ebeg yang umumnya dimainkan adalah dua kali tarian buto lawas, tarian senterewe, dan tarian begon putri. Tidak ada koreografi khusus pada ebeg, namun pemain dituntut untuk bergerak dengan kompak.

Kesan mistis dan ekstrem kerap kali dikaitkan pada tari ebeg, karena atraksi-atraksi yang sering ditampilkan ditengah atau diakhir pertunjukkan. Atraksi ebeg dianggap sebagai bentuk kekuatan nenek moyang terdahulu. Dalam Bahasa Banyumasan, atraksi dikenal dengan istilah mendhem yang berarti kesurupan. Tindakan keserupan oleh pemain biasanya diperlihatkan dengan kegiatan makan sesajen. Namun di luar kesan gelapnya tari ebeg, terdapat pesan kepada manusia untuk senantiasa melakukan kebaikan dan selalu ingat kepada Tuhan.

Peran Ebeg bagi Masyarakat Banyumasan

Seiring perkembangan zaman, cara pandang warga Banyumas terhadap seni mulai ditonjolkan pada seni pertunjukkan rakyat. Fenomena tersebut mulai terjadi tahun 1970. Secara sadar bahwa kesenian tumbuh dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas, sehingga lahirlah sebuah kebudayaan. Pun berbagai aspek kehidupan dalam ebeg diantaranya adalah kepercayaan, sikap, dan perilaku serta pendidikan.

Pertunjukkan ebeg kerap difungsikan sebagai pengiring upacara sedekah laut atau suranan. Kegiatan ini dilakukan oleh masyarakat Banyumasan di area yang dekat laut seperti Teluk Penyu, Menganti, Widara Payung, dan lainnya. Pun tujuan dari sedekah laut yakni sebagai bentuk ucapan syukur masyarakat terhadap kelimpahan ikan di laut.

Tumbuhnya sikap dan perilaku masyarakat Banyumasan dipengaruhi peran ebeg sebagai alat interaksi sosial. Artinya, ebeg menciptakan sebuah respon bagi masyarakat dalam memahami pertunjukan ebeg. Sehingga, eksistensi tetap stabil dan terus dikenal bagi masyarakat Banyumasan.

Memperkenalkan budaya lokal seperti ebeg merupakan peran yang harus dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Seperti hal nya dalam pendidikan, ebeg dikenalkan sebagai media pembelajaran kepada pelajar. Tujuannya yakni untuk mengembangkan kepekaan estetis melalui karya seni tradisional. Diambil dari penelitian Juniati et al., (2021) bukti nyata ebeg sebagai media pembelajaran sudah diimplementasikan oleh SMPN 8 Cilacap sebagai ujian praktik dalam mata pelajaran Seni Budaya.

Lestarikan Eksistensi Ebeg bagi Masyarakat Banyumasan

Tari ebeg yang sudah lama melekat menjadi suatu budaya di Banyumasan tidak seharusnya eksistensinya berkurang. Setiap generasi berhak untuk mendapatkan pemahaman mengenai budaya lokal. Pun implementasi melestarikan ebeg dapat dilakukan oleh masyarakat yakni dengan mengikuti pertunjukkannya dan turut serta berkontribusi dalam komunitas seni setempat.

Sumber:
Wikipedia, Media Husbandry

Kategori:
SENI BUDAYA


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The maximum upload file size: 64 MB. You can upload: image, audio, video, document, spreadsheet, interactive, text, archive, code, other. Links to YouTube, Facebook, Twitter and other services inserted in the comment text will be automatically embedded. Drop file here