Tinggalkan Pola Lama, KKN UIN Saizu Purwokerto Fokus pada Pemberdayaan Berkelanjutan

July 18, 2026
Wakil Bupati Banyumas Dwi Asih Lintarti saat bersalaman dengan mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto di Pendopo Wakil Bupati

PURWOKERTO – Paradigma pengabdian yang menempatkan masyarakat hanya sebagai objek jangka pendek resmi ditinggalkan demi membangun program desa yang lebih mandiri. Komitmen perubahan ini langsung mewarnai penerimaan 517 mahasiswa KKN UIN Saizu Purwokerto oleh Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, di Purwokerto pada Kamis (16/7/2026).

Sebanyak 517 mahasiswa siap mengabdi di tiga wilayah. Mereka tersebar di Kecamatan Tambak, Sumampir, dan Somagede. Selama 40 hari ke depan, para mahasiswa fokus menjalankan program pemberdayaan ekonomi desa yang berbasis pada potensi lokal.

Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, menyambut langsung kedatangan ratusan mahasiswa tersebut. Pertemuan resmi ini berlangsung di Pendopo Wakil Bupati Banyumas. Dalam kesempatan itu, pihak pemerintah daerah mengingatkan esensi penting dari pengabdian masyarakat.

Lintarti menekankan bahwa kegiatan lapangan ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban kuliah. Oleh karena itu, peserta harus menyerap pelajaran hidup dari interaksi sosial.

“Nanti ketika sudah berada di tengah masyarakat, adik-adik akan menemukan banyak hal yang mungkin tidak pernah dijumpai di ruang kuliah. Akan ada cerita, pengalaman, tantangan, sekaligus pelajaran hidup,” ujar Dwi Asih Lintarti.

Mengubah Paradigma KKN Tematik UIN Saizu

Pihak universitas kini menerapkan pendekatan baru dalam pengabdian masyarakat. Pola lama yang menempatkan warga hanya sebagai penonton kini mulai ditinggalkan. Sebaliknya, program kali ini mengedepankan kolaborasi aktif.

Kepala Pusat Kajian Budaya Lokal dan Penginyongan UIN Saizu, Rahman Afandi, menjelaskan alasan perubahan tersebut. Menurutnya, model lama membuat dampak pengabdian bersifat jangka pendek.

“Begitu KKN selesai, ya sudah. Tidak berkelanjutan,” ujar Rahman Afandi.

Melalui model terbaru ini, warga desa menjadi mitra utama mahasiswa. Kelompok mahasiswa bertugas membantu warga memetakan potensi desa yang belum optimal. Setelah itu, mereka merancang solusi bersama agar program terus berjalan mandiri.

“Dengan paradigma baru, maka akan ada dampak berkelanjutan. Harapannya, setelah mahasiswa KKN selesai, kegiatan yang telah diprogramkan selama KKN tetap berlanjut,” kata Rahman Afandi menambahkan.

Menghijaukan Desa dan Menggerakkan Ekonomi

Pemerintah daerah berharap kolaborasi ini membawa energi positif. Ide kreatif mahasiswa sangat dibutuhkan untuk mempercepat pembangunan. Namun, mahasiswa juga harus menjaga nama baik kampus.

Lintarti berpesan agar komunikasi dengan tokoh lokal berjalan baik. Indikator kesuksesan bukan hanya dari jumlah program kerja. Namun, kedekatan emosional dengan warga menjadi poin utama.

“Jangan hanya datang membawa program kerja, datanglah dengan semangat,” ucap Dwi Asih Lintarti tegas.

Kategori:
ARTIKEL


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

The maximum upload file size: 64 MB. You can upload: image, audio, video, document, spreadsheet, interactive, text, archive, code, other. Links to YouTube, Facebook, Twitter and other services inserted in the comment text will be automatically embedded. Drop file here