SUMPIUH — Ribuan petani durian Bawor hingga penderes gula kelapa di Desa Banjarpanepen kini berpeluang lepas dari jeratan tengkulak dan pinjaman ilegal. Pemerintah Kabupaten Banyumas bersama OJK resmi menyuntikkan kemudahan akses pembiayaan formal lewat peluncuran Program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (Desa EKI) 2026.
Peluang Baru Petani Durian dan Penderes Gula
Pemerintah Kabupaten Banyumas memilih Desa Banjarpanepen sebagai pusat percontohan Desa EKI tahun 2026. Wilayah yang terletak di Kecamatan Sumpiuh ini menyimpan potensi ekonomi luar biasa, mulai dari budi daya durian Bawor, gula kelapa kristal, hingga komoditas palawija.
Namun, keterbatasan akses terhadap lembaga keuangan formal selama ini menjadi tantangan utama warga. Kondisi tersebut kerap kali menghambat produktivitas serta kesejahteraan para petani setempat.
Wakil Bupati Banyumas, Dwi Asih Lintarti, menegaskan bahwa program ini hadir untuk memberikan kesempatan yang setara bagi warga desa.
“Kita menyadari bahwa masih terdapat kesenjangan tingkat literasi dan inklusi keuangan antara masyarakat perkotaan dan perdesaan,” ujar Lintarti.
Melalui program Desa EKI, Pemkab Banyumas ingin memastikan masyarakat desa dapat memanfaatkan berbagai produk dan layanan keuangan formal secara optimal. Warga kini bisa mengakses tabungan, pembiayaan usaha, asuransi, hingga transaksi digital dengan lebih aman.
Pendampingan Intensif Selama Tujuh Tahap
Sinergi ini juga melibatkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Purwokerto untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan. Kepala Kantor OJK Purwokerto, Dinavia Tri Riandari, menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk memberikan dampak jangka panjang bagi ekonomi warga.
“Program EKI juga diharapkan dapat mendorong masyarakat untuk memanfaatkan layanan keuangan secara optimal dalam mengembangkan potensi yang dimiliki desa,” ucap Dinavia.
Program pendampingan ini tidak hanya berfokus pada penyaluran dana, tetapi juga mencakup penguatan kapasitas usaha. Tahapan kegiatan akan berlangsung sejak 30 Juli hingga 8 September 2026 dengan total tujuh kali pertemuan intensif.
Selama periode tersebut, tim gabungan dari berbagai dinas akan memberikan bimbingan teknis. Materi pelatihan meliputi pemetaan potensi desa, edukasi keuangan, pendampingan usaha, hingga digitalisasi transaksi pasar.
Mendorong Kemandirian Ekonomi Desa
Selain sektor pertanian, Desa Banjarpanepen juga memiliki potensi wisata alam yang menjanjikan. Keberadaan destinasi seperti Bukit Panaritan, Curug Kelapa, dan Kali Cawang menjadi modal penting dalam memutar roda perekonomian lokal.
Kehadiran ekosistem keuangan yang inklusif harapannya mampu mendukung pendanaan sektor pariwisata tersebut. Dengan demikian, masyarakat dapat mengelola potensi daerahnya secara mandiri tanpa bergantung pada pihak ketiga yang merugikan.
Langkah konkrit ini menjadi bukti nyata komitmen Pemkab Banyumas dalam menjalankan amanat undang-undang. Pemerintah daerah terus menempatkan desa sebagai subjek utama pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
