
Buat kamu yang besar di Purwokerto atau sekitarnya, suara klakson khas angkot dan teriakan kernet “kiri, Pak!” mungkin adalah salah satu bunyi paling akrab dari masa kecil. Sebelum ojek online merajai jalanan, angkot dan angkudes adalah nadi transportasi warga—tempat kita berdesakan bareng ibu-ibu belanja, anak sekolah, sampai bapak-bapak yang pulang kerja.
Dan ternyata, di tengah gempuran zaman, sebagian dari mereka masih setia mengaspal. Salah satu titik kumpulnya ada di Pasar Wage, salah satu pasar tertua dan paling ramai di Purwokerto. Dari sini, empat “warna” angkudes dan angkot legendaris masih beroperasi setiap hari, mengantar penumpang ke berbagai penjuru kota dan desa. Yuk, kita napak tilas satu per satu.
1. Angkudes Kuning ( Rute Notog, Patikraja ke Pasar Wage)

Angkudes berwarna kuning ini melayani rute dari arah Notog, Patikraja menuju Pasar Wage. Tarif untuk penumpang umum sekitar Rp5.000, sementara pelajar cukup merogoh kocek mulai Rp2.000-an.
Yang perlu diperhatikan, unit yang beroperasi di rute ini terbilang paling sedikit dibanding tiga lainnya, jadi jangan kaget kalau harus menunggu agak lama. Pemberangkatan terakhir dari Pasar Wage juga cukup awal yaitu sekitar pukul 1 siang, jadi kalau mau nostalgia naik angkudes kuning ini, usahakan datang pagi hari ya.
2. Angkudes Biru (Rute Pasar Wage ke Sumbang, Limpakuwus)

Buat yang punya urusan atau kangen suasana ke arah Sumbang dan Limpakuwus, angkudes biru ini jawabannya. Tarif umum mulai dari Rp10.000-an, sedangkan pelajar sekitar Rp2.000.
Kabar baiknya, ketersediaan unit di jalur ini cukup banyak, sehingga penumpang tidak perlu menunggu terlalu lama. Angkudes biru masih beroperasi sampai cukup sore, dengan keberangkatan terakhir dari Pasar Wage sekitar pukul 4 sore.
3. Angkudes Hijau (Rute Pasar Wage ke Terminal Baturraden, Pancuran 7, dan Wisata Sekitarnya)

Ini dia rute favorit buat yang mau healing ke kawasan wisata Baturraden. Angkudes hijau melintasi Terminal Baturraden hingga area Pancuran 7 dan destinasi wisata lain di sekitarnya. Tarif umum di atas Rp10.000, sedangkan pelajar mulai dari Rp5.000.
Menariknya, jalur yang dilalui angkudes ini cukup fleksibel menyesuaikan tujuan penumpang yang naik. Jadi bukan rute yang kaku seperti dulu. Ketersediaan unitnya juga cukup banyak, dengan pemberangkatan terakhir dari Pasar Wage sekitar pukul 5 sore.
4. Angkot Oren (Rute Pasar Wage dan Keliling Kota Purwokerto)

Nah, ini yang paling ikonik dan mungkin paling banyak dikenang: angkot oren alias angkutan kota berwarna oranye khas Purwokerto. Rutenya mengelilingi pusat kota, mulai dari terminal, stasiun, kawasan Tanjung, area kampus, hingga rumah sakit. Tarif umum di atas Rp10.000, sedangkan pelajar sekitar Rp2.000.
Sama seperti angkudes hijau, ketersediaan unit angkot oren ini masih cukup banyak, dan masih beroperasi hingga sore hari dengan pemberangkatan terakhir dari Pasar Wage sekitar pukul 5 sore. Ada satu hal yang perlu kamu tahu sebelum nostalgia naik angkot oren ini: dulu angkot ini punya kode rute yang jelas seperti A1, A2, atau M1, tapi sekarang sistem itu sudah tidak berlaku lagi. Rute angkot oren kini lebih fleksibel, mengikuti lokasi dan kebutuhan penumpang.
Catatan Sebelum Naik!
Rata-rata sopir juga bersedia mengantar penumpang di luar jalur trayek resmi, bahkan ke tempat wisata, dengan sistem tawar-menawar harga—mirip seperti naik ojek. Jadi, kalau kamu naik sendirian atau di saat kondisi sepi penumpang, ada kemungkinan sopir menawarkan harga di atas tarif standar. Tidak ada salahnya menanyakan tarif di awal supaya tidak ada kesalahpahaman di jalan.
Di tengah kota yang terus berubah, empat angkot dan angkudes ini jadi semacam saksi bisu yang masih bertahan dari masa ke masa. Buat generasi yang tumbuh besar dengan naik angkot ke sekolah atau ke pasar bareng orang tua, mampir ke Pasar Wage dan mencoba naik salah satu dari mereka bisa jadi cara sederhana untuk bernostalgia—sekaligus mendukung transportasi rakyat yang masih setia mengantar warga Purwokerto ke mana pun tujuannya.
Informasi tarif dan jadwal dapat berubah sewaktu-waktu, disarankan untuk mengecek kembali langsung di lapangan.

Semua komentar
Nostalgia banget yakin numpak angkot oren